Festival Lintas Budaya UNAS Asah Kemampuan Diplomasi Budaya Mahasiswa

Festival Lintas Budaya UNAS Asah Kemampuan Diplomasi Budaya Mahasiswa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (FBS UNAS) memanfaatkan Cross Culture Festival sebagai sarana pembelajaran langsung untuk mengasah diplomasi budaya. Agenda tahunan ini tidak hanya memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga membuka ruang interaksi lintas budaya bagi generasi muda.

Festival yang digelar di Aula A Kampus UNAS pada 22 Januari tersebut diikuti sekitar 180 peserta dari kalangan mahasiswa, pelajar SMA, dan masyarakat umum. Beragam penampilan seni berbahasa Inggris ditampilkan, mulai dari solo song, storytelling, pembacaan puisi, hingga pementasan drama.

Di luar panggung utama, pengunjung juga dapat menikmati pameran artikel kebudayaan serta bazar kuliner daerah. Sejumlah makanan khas Nusantara, termasuk kuliner Maluku, dihadirkan sebagai bagian dari pengenalan keberagaman budaya Indonesia.

Ketua Program Studi Sastra Inggris FBS UNAS, Siti Tuti Alawiyah, mengatakan Cross Culture Festival tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua yang secara khusus digagas oleh Program Studi Sastra Inggris dan turut dihadiri perwakilan Kedutaan Besar Belgia.

“Cross Culture Festival ini memang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Inggris. Tahun ini kami juga menerima kehadiran perwakilan dari Kedutaan Besar Belgia,” ujar Tuti dalam keterangan tertulis, Jumat (23/1/2026).

Menurut Tuti, festival ini digelar sebagai kegiatan komprehensif yang memadukan seni pertunjukan, diskusi lintas budaya, serta kompetisi. Narasumber talk show berasal dari Kementerian Luar Negeri, Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), serta pendiri Perempuan Berbudaya Berkarya Indonesia (PBBI).

Cross Culture Festival merupakan implementasi dari mata kuliah Cross Culture Understanding dan English for Industries. Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa bertanggung jawab penuh sebagai penyelenggara kegiatan.

“Mahasiswa menjalankan seluruh proses sebagai panitia. Peran dosen lebih kepada pendampingan dan pengarahan. Pesertanya berasal dari mahasiswa UNAS dan pelajar SMA yang kami undang dari sekitar kampus,” jelas Tuti.

Selain pertunjukan dan diskusi, festival ini juga melibatkan pelaku usaha mikro dan kecil. Panitia mengundang UMKM dari Anjungan Maluku Timur serta lingkungan sekitar kampus untuk membuka stan pameran dan bazar.

Tuti menilai pendekatan ini memberi nilai tambah bagi mahasiswa meskipun skala festival tahun ini bersifat nasional. Melalui kurikulum Outcome Based Education (OBE), mahasiswa diarahkan mengembangkan keterampilan non-akademik.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul secara teori di kelas, tetapi juga mampu mengasah kemampuan praktis seperti manajemen acara, komunikasi, kerja tim, dan jejaring profesional,” katanya.

Festival yang mengusung tema Unity in Motion: A Festival of Arts and Culture bertujuan memperkuat pemahaman lintas budaya di tengah dinamika global. Melalui sesi talk show, peserta diajak memahami pentingnya menjaga identitas budaya serta membangun komunikasi antarbudaya.

“Kegiatan ini memberi wawasan kepada mahasiswa tentang bagaimana generasi muda menyikapi perbedaan budaya, membangun jejaring dalam keberagaman, serta menjaga diplomasi melalui komunikasi yang sehat,” ujar Tuti.

Dalam salah satu sesi diskusi, Anggota KEIN Han Prayanto mengulas fenomena budaya Korea sebagai contoh keberhasilan diplomasi budaya yang dirancang secara sistematis.

“Budaya Korea, termasuk K-pop dan Hallyu, menunjukkan bagaimana diplomasi budaya bisa berhasil ketika pemerintah dan industri hiburan berjalan beriringan. Ini membuat budaya mereka tidak hanya dikenal, tetapi juga digemari secara global,” katanya.

Sementara itu, mantan Duta Besar RI untuk Ekuador periode 2016–2020, Diennaryati Tjokrosuprihatono, membagikan pengalamannya mengenai kehidupan diaspora Indonesia di Amerika Latin.

Ketua Pelaksana Cross Culture Festival, Ilham Putra Ayanda, mengatakan tema Unity in Motion dipilih untuk merepresentasikan keberagaman latar belakang peserta dan pengisi acara.

“Kami memilih tema Unity karena peserta dan pengisi acara berasal dari latar belakang yang beragam. Ada mahasiswa dari berbagai suku di Indonesia, juga perwakilan budaya luar seperti Inggris dan Bulgaria, serta dari Indonesia Timur. Semua bertemu dalam satu ruang budaya,” ujar Ilham.

Sumber berita; Festival Lintas Budaya UNAS Asah Kemampuan Diplomasi Budaya Mahasiswa | Republika Online