JAKARTA (UNAS) – Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Nasional (UNAS) kembali mengukuhkan komitmennya dalam pelestarian budaya melalui ajang bergengsi Cross Culture Festival (CCF) ke-3. Mengusung tema “Unity in Motion: A Festival of Arts and Cultures”, kegiatan skala nasional ini berlangsung meriah di Aula UNAS, Gedung A Lantai 4, pada Kamis (22/01).
Festival tahunan ini menjadi wadah kolaborasi seni yang melibatkan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar SMA/SMK/MA hingga mahasiswa umum. Di bawah naungan Ketua Program Studi Sastra Inggris, Dr. Siti Tuti Alawiyah, S.S., M.Hum., dan Sekretaris Prodi, Evi Jovita Putri, S.Hum., M.A.,.
Budaya sebagai Fondasi Perdamaian Global
Acara dibuka dengan penampilan memukau Tari Kipas tradisional oleh para peserta lomba dan PIC acara. Suasana semakin khidmat saat seluruh hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Unas dengan Kak Midi sebagai dirigen.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan FBS UNAS, Dra. Fadhilah, M.Hum., menekankan bahwa CCF bukan sekadar perayaan, melainkan upaya menumbuhkan kesadaran akan keragaman budaya sebagai fondasi perdamaian. “Konflik kerap berakar dari kurangnya pemahaman lintas budaya. Di era global, bahasa harus menjadi sarana untuk memahami budaya lain secara lebih luas,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Dekan FBS UNAS, Dra. Nana Yuliana, M.A., M.Si., Ph.D. Ia menyoroti pentingnya pemahaman lintas budaya dan kesetaraan gender untuk menghapus stereotipe. Beliau juga memaparkan langkah konkret fakultas dalam membekali mahasiswa dengan kompetensi global melalui program magang internasional ke Jepang yang telah diikuti lebih dari 100 mahasiswa.

Diplomasi Soft Power dan Tantangan Modernisasi
Puncak sesi formal ditandai dengan sambutan dari Dra. Diennaryati Tjokrosuprihatono, M.Psi., pendiri Perempuan BerBudaya Berkarya Indonesia (PBBI) sekaligus mantan Duta Besar RI untuk Ekuador (2016–2020). Ia berbagi pengalaman mengenai kekaguman masyarakat internasional terhadap budaya Indonesia dan pentingnya menjaga warisan UNESCO dari tantangan klaim global.
Simfoni Seni dan Kompetisi Nasional
Kemeriahan festival berlanjut dengan berbagai pertunjukan seni, di antaranya:
- Drama Musikal: Pementasan bertema Prince of Reign Era selama 45 menit.
- Kompetisi Nasional: Babak final lomba Story Telling, Solo Song, dan Lomba Puisi yang memukau audiens.
- Drama Klasik: Pertunjukan mendalam berjudul “The Color of Sin” selama 60 menit.
- Fashion Show: Menampilkan kemegahan busana adat khas Indonesia Timur, mencakup Maluku, Nusa Tenggara, hingga Papua.
Foto bersama dan sebagai bentuk apresiasi, penyerahan cenderamata didampingi jajaran dekanat.

Edukasi budaya dilanjutkan melalui Talkshow bertajuk “Preserving Nusantara Culture Amid the Challenges of Modernization”. Dipandu moderator Andrew Gomgom Tambun, dua narasumber ahli, Dr. Phil. Han. Prajanto dan Bapak Jurman Saputra Nazar, mengupas tuntas bahaya homogenisasi budaya. Mereka menegaskan bahwa teknologi seperti TikTok dan Instagram harus dimanfaatkan sebagai instrumen soft power agar budaya Nusantara tetap menjadi living culture, bukan sekadar artefak sejarah.
Ketua Pelaksana, Ilham, menyampaikan terima kasih kepada para sponsor (Sari Roti, Erakini.id, Yamaha) serta media partner (UNAS TV, FPCI, PBBI) yang telah menyukseskan acara ini.
Kegiatan diakhiri dengan pengumuman pemenang lomba tingkat nasional dan sesi foto bersama antara panitia, penampil kelompok CCF, kaprodi, tamu undangan, dan peserta. Melalui narasi penutupnya, MC berharap agar semangat “Unity in Motion” terus membekas bagi generasi muda untuk tetap bangga akan jati diri bangsa di tengah arus modernisasi.(FBS)
Dokumentasi Kegiatan; https://drive.google.com/drive/folders/17vHdvhFBgn80idudn6yxnkfvW8ZvxW6d
