Bahasa Ibu di tengah Ancaman Kehidupan Mondial yang Kapitalistis

oleh: Riko, S.S.

Keprihatinan seputar keberlangsungan bahasa ibu masih menjadi isu hangat bagi para linguis hingga hari ini. Berdasarkan penemuan sementara, alasan utama para penutur, bahasa ibu beralih ke bahasa basional (Bahasa Indonesia) atau bahasa asing adalah bahasa ibu tidak menguntungkan secara sosial maupun ekonomi. Untuk menemukan jalan keluar dari krisis tersebut, penelaahan secara filosofis perlu dikemukakan terlebih dahulu sebelum melangkah ke tataran kebijakan politik. Melalui penelitian atas pemikiran Filsafat Analitik dari Filsuf Ludwig Wittgenstein yang dikenal dengan konsep Language-Games,Saya mendapati bahwa soalan bahasa bukan sekadar urusan linguistik, melainkan bentuk kehidupan (form of life). Dengan demikian, Saya menyimpulkan bahwa problem keberlangsungan bahasa ibu akan terpecahkan apabila bahasa ibu memunyai tempat untuk hidup di dalam kehidupan penuturnya. Sementara itu, tempat untuk hidup bahasa ibu di dalam kehidupan penuturnya sudah tergeser oleh pola kehidupan mondial yang kapitalistik, seperti, media massa, gaya hidup konsumtif, atau perusahaan multinasional. Padahal, pola kehidupan mondial yang kapitalistis tersebut mensyaratkan keseragaman dalam berbahasa.

Unduh File : [fancy_link color=”red” link=”http://sastra.unas.ac.id/wp-content/uploads/2012/03/12Riko_Abstrak_Bahasa_Ibu_di_tengah_Ancaman_Kehidupan_Mondial_yang_Kapitalistis.pdf”]Abstrak_Bahasa_Ibu_di_tengah_Ancaman_Kehidupan_Mondial_yang_Kapitalistis[/fancy_link]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *