Lagi, D3 Bahasa Mandarin UNAS Kirim Mahasiswa ke Negeri Tirai Bambu

Selama satu tahun, ketiga mahasiswi program Diploma III Bahasa Mandarin FBS Unas akan menempuh dan mendalami bahasa Mandarin secara langsung
Jakarta [UNAS] – Program studi D3 Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional kembali menunjukkan eksistensi dan kualitas mahasiswanya di dunia pendidikan. terbukti, setelah di tahun sebelumnya mengirimkan tiga mahasiswa ke negeri Cina melalui jalur beasiswa, kini D3 Bahasa Mandarin Unas pun kembali mengirimkan tiga mahasiswanya untuk memperdalam budaya dan bahasa mandarin di Fujian Normal University, Cina.

Jika sebelumnya program Diploma III Bahasa Mandarin Unas sukses mengirimkan Yusri Wahfan, Debby Kartika, dan Elfani melalui program beasiswa untuk mengembangkan dan memperdalam kemampuan bahasa Mandarinnya langsung di negeri tirai bambu di tahun 2012 dan 2013, kini gililran Rizki Adriani, Indah Kurniasari, dan Indah Mardhotillah yang berkesempatan untuk bertolak dan menimba ilmu selama satu tahun di Fujian Normal University, Fujian Fuzhou – China.

“Setiap tahun memang diinformasikan oleh kepala program studi terkait beasiswa ini, dan siapa yang mau mengikuti proram ini harus mengikuti tes HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi) dan HSKK. Tes yang pertama terkait pengetahuan dan kemampuan menulis, sedangkan tes kedua adalah kemampuan pelafalan kata dan kalimat bahasa Mandarin,” papar Rizki Adriani saat ditemui di ruang Unit Pelaksana Teknis Marketing & Public Relations Universitas Nasional, Senin (16/6).

Selama satu tahun, ketiga mahasiswi program Diploma III Bahasa Mandarin FBS Unas akan menempuh dan mendalami bahasa Mandarin secara langsung baik melalui pembelajaran di dalam kelas, maupun melalui budaya yang akan dirasakan selama tinggal disana. “Bahasa Mandarin itu sangat unik, semakin diperdalam justru semakin menarik. Kesulitan dan keunikan yang ada selama mempelajarinya itu yang membuat saya semakin tertantang untuk menjadi bisa dan mahir berbahasa Mandarin,” imbuh Indah Kurniasari saat ditemui pada kesempatan yang sama.

Berbeda dengan kedua temannya, Rizki Adriani dan Indah Kurniasari yang tertarik mempelajari bahasa Mandarin lantaran keunikan bahasanya, Indah Mardhotillah justru terdorong mendalami bahasa Mandarin dengan alasan ingin membuka pola pikir dan minat masyarakat Indonesia untuk mempelajari bahasa tersebut menjadi meningkat. “Sekarang ini ketertarikan dan minat orang – orang di Indonesia belum begitu besar untuk belajar bahasa Mandarin. Mungkin karena dikiranya bahasa ini sulit untuk dipelajari. Oleh karena itu, saya ingin belajar dengan sungguh – sungguh disana, dan ketika pulang nanti ingin bisa berbagi dan mengajarkan ke teman – teman yang lain ataupun masyarakat sekitar,” jelas Indah.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *